Rantai pasok, atau supply chain, saat ini tidak lagi dinilai hanya dari seberapa cepat barang dapat diproduksi atau dikirim. Cara perusahaan menggunakan energi, memilih pemasok, mengelola limbah, hingga memastikan praktik distribusi yang bertanggung jawab juga semakin menjadi bagian dari bagaimana keberlanjutan bisnis dinilai.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap ESG (Environmental, Social and Governance), efisiensi operasional, serta ekspektasi dari buyer, investor, dan stakeholder, sustainable supply chain menjadi semakin penting bagi perusahaan yang ingin membangun bisnis yang lebih efisien sekaligus siap menghadapi standar sustainability yang terus berkembang.
Kabar baiknya, membangun rantai pasok yang lebih berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari transformasi besar. Perusahaan dapat memulainya dari area yang paling dekat dengan operasional sehari-hari.
Sustainable supply chain adalah pendekatan dalam mengelola rantai pasok dengan memasukkan pertimbangan lingkungan, sosial, dan finansial ke dalam proses pengadaan, produksi, hingga distribusi barang dan jasa.
Artinya, perusahaan tidak hanya mempertimbangkan apakah produk dapat sampai ke pelanggan secara efisien. Proses di baliknya juga perlu dikelola secara lebih bertanggung jawab.

Secara umum, ada tiga aspek supply chain yang perlu diperhatikan:
Ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Upaya mengurangi konsumsi energi atau limbah, misalnya, dapat membantu perusahaan menekan dampak lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Dampak lingkungan sebuah perusahaan tidak berhenti pada aktivitas yang terjadi di dalam fasilitasnya sendiri.
Data yang dirujuk IBM dari Carbon Disclosure Project menunjukkan bahwa emisi dari rantai pasok perusahaan dapat mencapai hingga 11,4 kali emisi langsung perusahaan dan mewakili lebih dari 90% total emisi gas rumah kaca dalam beberapa konteks bisnis.
Inilah mengapa strategi sustainability perlu melihat keseluruhan rantai pasok, mulai dari bahan baku, proses produksi, penggunaan energi, logistik, sampai pengelolaan produk dan limbah.
Bagi bisnis, manfaatnya juga lebih luas daripada pengurangan jejak karbon. Sustainable supply chain dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya melalui pengurangan limbah dan kebutuhan energi, sekaligus memperkuat reliabilitas serta ketahanan rantai pasok. Survei yang dirujuk IBM bahkan menunjukkan bahwa 61% perusahaan terdorong menerapkan sustainable supply chain untuk mendapatkan penghematan biaya dan meningkatkan efisiensi.
Dalam praktiknya, rantai pasok yang lebih berkelanjutan dapat membantu perusahaan:

Tidak semua bagian supply chain harus diubah sekaligus. Perusahaan dapat memulai dari beberapa area yang paling relevan dengan aktivitas operasionalnya:
Harga dan kualitas tetap menjadi pertimbangan penting, tetapi perusahaan juga dapat melihat bagaimana calon pemasok mengelola dampak lingkungan dan sosialnya. Misalnya melalui standar pengurangan emisi, pengelolaan limbah, praktik ketenagakerjaan, atau pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab.
Proses produksi umumnya membutuhkan energi dalam jumlah besar. Karena itu, efisiensi energi dan penggunaan energi bersih dapat menjadi salah satu area yang relatif konkret untuk mulai dikelola.
Penggunaan renewable energy dan teknologi yang lebih efisien adalah salah satu strategi yang dapat mendukung pengurangan jejak karbon dalam rantai pasok.
Pengaturan rute, konsolidasi pengiriman, pemilihan kendaraan yang lebih efisien, dan perencanaan distribusi yang lebih baik dapat membantu mengurangi konsumsi bahan bakar sekaligus meningkatkan efisiensi logistik.
Perusahaan dapat mengevaluasi kembali penggunaan kemasan, material produksi, serta peluang penggunaan ulang dan daur ulang. Pendekatan ini membantu mengurangi kebutuhan sumber daya sekaligus menekan pemborosan.
Sustainability harus dapat diukur. Data mengenai konsumsi energi, produksi energi, emisi, limbah, dan performa pemasok dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai area yang perlu ditingkatkan.
Dengan langkah-langkah tersebut, perusahaan dapat membangun supply chain yang lebih efisien, transparan, dan bertanggung jawab secara bertahap.

Energi merupakan salah satu bagian yang dekat dengan aktivitas operasional sehari-hari, terutama bagi fasilitas manufaktur dan komersial dengan kebutuhan listrik yang tinggi.
Salah satu langkah konkret yang dapat dilakukan oleh bisnis adalah memanfaatkan solar photovoltaic (PV) melalui PLTS atap. Sistem ini memungkinkan perusahaan menghasilkan sebagian kebutuhan listrik dari energi surya langsung dari area atap fasilitas.
Bagi bisnis, pemanfaatan PLTS atap juga mendukung pengurangan emisi yang berkaitan dengan konsumsi energi operasional, serta mengubah area atap menjadi aset yang lebih produktif.
Produksi listrik dari sistem PLTS dapat dipantau secara lebih terukur. Data tersebut dapat membantu perusahaan memahami kontribusi energi surya terhadap kebutuhan listrik fasilitas dan mendukung pengelolaan performa keberlanjutan berbasis data.
Peran energi surya sendiri diperkirakan akan semakin besar dalam sistem energi Indonesia. IESR mencatat bahwa RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) PLN 2025–2034 menargetkan penambahan kapasitas energi surya sebesar 17 GW. IESR juga menilai bahwa pertumbuhan dalam skala besar ini perlu ditopang dengan ekosistem energi surya yang kuat, mulai dari kebijakan hingga rantai pasok industri yang lebih terintegrasi.
Seluruh perkembangan ini menunjukkan bahwa penggunaan energi surya semakin penting untuk dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi operasional dan sustainability jangka panjang.
Baca juga: PLTS Atap untuk Bisnis: Mengurangi Biaya Energi dan Mendukung Sustainability
Membangun sustainable supply chain tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Perusahaan dapat mulai menggunakan energi yang lebih bersih di fasilitas operasional.
Solar Radiance membantu bisnis mengadopsi PLTS atap melalui proses yang terintegrasi, mulai dari technical analysis and design, pembiayaan, engineering, procurement, and construction (EPC), hingga operation and maintenance (O&M).
PLTS atap dapat membantu bisnis mengurangi sebagian penggunaan listrik konvensional, mendukung pengurangan emisi operasional, serta menjadikan penggunaan energi yang lebih bersih sebagai bagian dari langkah keberlanjutan dalam rantai pasok.
Ingin mengetahui bagaimana PLTS atap dapat mendukung strategi sustainable supply chain perusahaan Anda?
Hubungi tim Solar Radiance atau kontak melalui email marketing@solar-radiance.co.id untuk konsultasi lebih lanjut.
Ikuti juga media sosial kami untuk mendapatkan informasi terbaru seputar tenaga surya dan tren industri lainnya:
Instagram: @solarradiance_id
LinkedIn: Solar Radiance

Perusahaan dapat memulai dari area operasional yang paling mudah diukur, seperti konsumsi energi, penggunaan material, limbah, logistik, atau standar pemasok. Untuk aspek energi, Solar Radiance dapat membantu mengevaluasi potensi PLTS atap di fasilitas perusahaan sebagai salah satu langkah konkret menuju operasional yang lebih berkelanjutan.
Belum tentu. Sustainable supply chain mencakup banyak aspek, mulai dari lingkungan, sosial, pemasok, logistik, hingga efisiensi finansial. PLTS atap merupakan salah satu langkah yang dapat mendukung aspek energi dan pengurangan emisi operasional. Solar Radiance membantu perusahaan mengelola bagian tersebut melalui solusi energi surya yang disesuaikan dengan kondisi fasilitas.
Tidak selalu. Melalui skema Third-Party Ownership (TPO) dari Solar Radiance, perusahaan dapat memanfaatkan listrik yang dihasilkan PLTS atap tanpa investasi besar di awal. Solar Radiance membangun dan mengelola aset PLTS selama periode kerja sama.
Potensi setiap fasilitas berbeda karena dipengaruhi kondisi atap, kebutuhan listrik, profil konsumsi energi, serta faktor teknis lainnya. Karena itu, Solar Radiance melakukan analisis teknis sebelum menentukan konfigurasi sistem yang sesuai dengan kebutuhan fasilitas.
Dukungan Solar Radiance mencakup proses pengoperasian dan pemeliharaan sistem selama masa kerja sama. Dengan pengelolaan tersebut, perusahaan dapat memperoleh manfaat energi surya tanpa harus mengambil seluruh tanggung jawab teknis pengelolaan aset secara internal.