ESG merupakan kerangka yang membantu perusahaan mengelola tiga aspek utama dalam kegiatan bisnisnya, yaitu Environmental, Social, dan Governance. Cakupannya dapat meliputi penggunaan energi dan emisi, keselamatan pekerja, hingga kepatuhan, transparansi, dan proses audit.
Dari sini, perusahaan biasanya menetapkan target ESG, yaitu sasaran yang ingin dicapai pada aspek-aspek tersebut, seperti pengurangan emisi, peningkatan penggunaan energi terbarukan, penguatan keselamatan kerja, atau peningkatan transparansi pelaporan.
ESG dan target keberlanjutan semakin sering muncul dalam strategi hingga sustainability report perusahaan manufaktur. Namun, bagi sebuah fasilitas produksi, implementasinya sebenarnya jauh lebih dekat dengan kegiatan operasional sehari-hari.
Penggunaan energi, emisi dari kegiatan produksi, keselamatan pekerja, standar bagi kontraktor, kepatuhan terhadap regulasi, kebutuhan audit dari pelanggan, hingga transparansi data merupakan beberapa contoh bagaimana aspek Environmental, Social, dan Governance hadir di lingkungan sektor manufaktur.
Relevansinya pun dapat berbeda antara satu perusahaan dan perusahaan lainnya. Perusahaan dengan konsumsi energi tinggi perlu memberi perhatian lebih besar pada efisiensi dan energi terbarukan. Perusahaan yang masuk dalam rantai pasok global dapat menghadapi persyaratan sustainability dan audit dari pelanggan. Sementara itu, fasilitas dengan aktivitas produksi yang kompleks perlu memastikan standar keselamatan dan kepatuhan tetap berjalan konsisten.
Inilah mengapa ESG di sektor manufaktur sebaiknya dilihat sebagai bagian dari cara fasilitas beroperasi dan mengambil keputusan, bukan sekadar bagian dari pelaporan tahunan.
Dalam lingkungan manufaktur, listrik digunakan di banyak titik. Mulai dari mesin produksi, sistem utilitas, HVAC, pencahayaan, pompa, kompresor, hingga berbagai peralatan pendukung lainnya.
Besarnya kebutuhan tersebut membuat energi memiliki hubungan langsung dengan dua hal sekaligus, yaitu efisiensi operasional dan dampak lingkungan fasilitas.
Dalam pilar Environmental perusahaan dapat melihat berbagai area seperti efisiensi energi dan air, pengurangan emisi, pengelolaan limbah, serta pemanfaatan teknologi yang mendukung operasional lebih rendah karbon. Di sektor manufaktur sendiri, konsumsi energi dan pengelolaan emisi juga menjadi salah satu indikator penting dalam implementasi ESG pada pilar ini.

Salah satu langkah yang dapat perusahaan Anda terapkan adalah meningkatkan porsi energi terbarukan dalam konsumsi fasilitas.
Melalui PLTS atap, perusahaan dapat menghasilkan sebagian listrik dari energi surya secara langsung di lokasi. Pada sistem on-grid, energi tersebut dapat digunakan ketika produksi PLTS berlangsung. Jika kebutuhan fasilitas lebih besar daripada produksi solar pada saat itu, kekurangannya tetap dipenuhi oleh jaringan PLN.
Baca juga: Energi Surya Makin Kompetitif: Mengapa PLTS Atap Relevan untuk Bisnis Indonesia
Sistem ini dapat mengurangi sebagian penggunaan listrik dari jaringan sekaligus memberikan sumber energi terbarukan yang produksinya dapat diukur.
Bagi perusahaan yang memiliki target pengurangan emisi operasional, hal ini adalah salah satu langkah praktis dalam membantu strategi lingkungan perusahaan.
Pilar Social sering dikaitkan dengan kesejahteraan karyawan, praktik ketenagakerjaan, keberagaman, atau kontribusi perusahaan kepada masyarakat. Dalam lingkungan manufaktur, ada satu aspek yang sangat dekat dengan kegiatan sehari-hari, yaitu keselamatan kerja.
Aktivitas di fasilitas manufaktur melibatkan pekerja, kontraktor, peralatan, kendaraan, sistem kelistrikan, dan berbagai pekerjaan teknis yang dapat berlangsung pada saat fasilitas tetap beroperasi. Karena itu, bagaimana perusahaan menjaga kondisi kerja dan mengelola keselamatan pihak yang berada di dalam fasilitas merupakan bagian penting dari tanggung jawab sosial.

Pertimbangan tersebut juga berlaku ketika terdapat proyek eksternal di area pabrik, termasuk pembangunan dan pemeliharaan PLTS atap.
Proyek Solar Radiance bersama PT MCLS Asia Pacific, sebagai contoh, Solar Radiance menjalankan proses konstruksi PLTS atap dengan mengikuti standar keselamatan yang diterapkan di fasilitas PT MCLS. Mereka juga menilai penerapan safety ini sebagai salah satu aspek yang berjalan baik sejak tahap konstruksi hingga commissioning.
Hal serupa juga kami terapkan pada proyek bersama PT Shoetown Ligung Indonesia. Shoetown menilai kelengkapan dan standar keamanan Solar Radiance sebagai salah satu keunggulan dalam implementasi proyek. Faktor ini penting karena pekerjaan PLTS di lingkungan manufaktur memerlukan koordinasi dengan aktivitas pabrik dan prosedur keselamatan yang sudah berlaku di lokasi dan sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Pendekatan tersebut sejalan dengan standar HSE Solar Radiance yang mencakup karyawan, pelanggan, pemasok, dan mitra di seluruh aktivitas proyek.
Perusahaan manufaktur bekerja di tengah berbagai persyaratan, dengan adanya:
Pada pilar Governance, elemen seperti transparansi perusahaan, manajemen internal, manajemen risiko, proses audit, dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi bagian penting dari tata kelola perusahaan.

Konteks ini menjadi semakin relevan bagi perusahaan yang berada dalam rantai pasok perusahaan multinasional.
PT MCLS Asia Pacific, misalnya, memproduksi bahan yang digunakan oleh berbagai perusahaan multinasional. Pelanggannya secara rutin melakukan audit yang mencakup compliance, performa lingkungan, dan perkembangan ESG perusahaan. Karena itu, inisiatif keberlanjutan perlu dapat diterjemahkan ke dalam tindakan operasional yang memiliki hasil terukur.
PLTS dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut ketika proyek dijalankan dengan proses teknis yang terdokumentasi, mengikuti persyaratan yang berlaku, serta memiliki data produksi energi yang dapat dipantau.
Sistem PLTS yang dikembangkan bersama Solar Radiance untuk PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia atau MMKI dilengkapi dengan sistem pemantauan yang memungkinkan perusahaan melihat jumlah energi terbarukan yang dihasilkan serta estimasi pengurangan emisi. Dengan data tersebut, manfaat lingkungan dari proyek dapat dievaluasi secara lebih transparan dari waktu ke waktu.
Dalam konteks ESG, kemampuan untuk mengukur hasil PLTS ini sangatlah penting karena perusahaan membutuhkan data yang dapat mendukung evaluasi, pelaporan, dan pengambilan keputusan selanjutnya.
Environmental, Social, dan Governance memang memiliki fokus yang berbeda. Dalam implementasinya, ketiganya sering berkaitan dalam satu aktivitas yang sama.
Pengembangan PLTS atap di fasilitas manufaktur adalah contoh yang cukup jelas, karena:
Energi terbarukan dihasilkan langsung di fasilitas dan membantu mengurangi sebagian penggunaan listrik dari jaringan serta emisi yang berkaitan dengan konsumsi listrik.
Proses pembangunan, inspeksi, hingga pemeliharaan harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan keselamatan pekerja, kontraktor, dan aktivitas operasional di fasilitas.
Proyek membutuhkan perencanaan, dokumentasi, kepatuhan, koordinasi, serta data performa yang dapat dipantau dan dievaluasi.

Hal yang sama berlaku untuk banyak inisiatif lain di sektor manufaktur. Program efisiensi energi, pengelolaan limbah, standar keselamatan, hingga audit rantai pasok dapat memiliki hubungan dengan beberapa aspek ESG sekaligus, dan yang terpenting adalah memastikan bahwa target pada tingkat perusahaan dapat diterjemahkan menjadi proses yang jelas di tingkat operasional.

PLTS bukanlah solusi untuk seluruh aspek ESG perusahaan. Pemanfaatannya terutama merupakan salah satu tindakan yang relevan dalam pilar Environmental.
Bagi fasilitas manufaktur, PLTS atap dapat mendukung beberapa tujuan seperti:
Baca juga: Cara Mudah Menjadi Bagian dari Sustainable Supply Chain
Bagi banyak perusahaan, perkembangan ESG mungkin perlu ditunjukkan kepada pelanggan, pemegang saham, kantor pusat, maupun stakeholder lainnya.

Implementasi ESG menjadi lebih konkret ketika perusahaan dapat menunjukkan apa yang sudah dijalankan dan bagaimana hasilnya diukur.
Beberapa proyek Solar Radiance di sektor manufaktur menunjukkan bentuk implementasi yang berbeda sesuai kebutuhan setiap perusahaan:
Kami mengoperasikan PLTS atap untuk PT MCLS Asia Pacific fase pertama dengan kapasitas 1,81 MWp. Sistem tersebut diperkirakan menghasilkan sekitar 2.630 MWh energi terbarukan per tahun dan menghindari sekitar 1.615 ton emisi CO₂ setiap tahun.
Bagi MCLS, manfaat tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan perusahaan untuk meningkatkan performa ESG sekaligus memenuhi proses evaluasi pelanggan multinasional yang mencakup compliance, lingkungan, dan ESG. Data produksi energi dan pengurangan emisi memberikan bentuk implementasi yang dapat ditunjukkan dan diukur.
Baca juga: PT MCLS Asia Pacific Mendukung Operasional Berkelanjutan melalui PLTS Atap Bersama Solar Radiance
PT MMKI mengembangkan PLTS atap bersama Solar Radiance secara bertahap dalam tiga fase hingga mencapai total kapasitas 11,74 MWp.
Keseluruhan sistem diperkirakan menghasilkan sekitar 16.000 MWh energi terbarukan per tahun dan menghindari sekitar 14.272 ton emisi CO₂ setiap tahun. Sistem pemantauan yang kami integrasikan membantu MMKI melihat produksi energi serta estimasi dampak lingkungan secara transparan dan berkala.
Pengembangan bertahap tersebut menunjukkan bahwa implementasi energi terbarukan dapat disesuaikan dengan kebutuhan energi, kesiapan fasilitas, dan rencana operasional perusahaan dari waktu ke waktu.
Baca juga: Menuju Green Automotive Manufacturing: Perjalanan PT MMKI Bersama Solar Radiance
Solar Radiance mengembangkan PLTS atap untuk PT Shoetown Ligung Indonesia dengan kapasitas 2,59 MWp di fasilitas manufakturnya di Majalengka. Sistem tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 3.793 MWh listrik per tahun.
Pemanfaatan energi surya berkaitan dengan target pengurangan emisi dari kantor pusat Shoetown serta program sustainability Nike sebagai salah satu mitra merek global perusahaan.
Sepanjang masa kerja sama 20 tahun, proyek tersebut diproyeksikan mengurangi emisi hingga sekitar 63.238 metrik ton CO₂. Proyek ini memperlihatkan bagaimana tindakan pada fasilitas manufaktur dapat mendukung agenda keberlanjutan perusahaan sekaligus kebutuhan yang berkembang di sepanjang rantai pasok global.
Baca juga: PLTS Atap 2,59 MWp di Majalengka: Langkah Shoetown Ligung Indonesia Menuju Operasi Lebih Bersih
Ketiga proyek tersebut memiliki skala dan konteks yang berbeda. Namun, ada satu benang merah yang sama, yaitu dimana target keberlanjutan menjadi lebih nyata ketika diterjemahkan menjadi proyek yang dapat dijalankan, dipantau, dan diukur.
ESG di sektor manufaktur mencakup area yang jauh lebih luas daripada penggunaan energi terbarukan. Keselamatan pekerja, praktik ketenagakerjaan, pengelolaan lingkungan, kepatuhan, transparansi, serta tata kelola juga tetap perlu berjalan sebagai satu kesatuan.
Penggunaan energi secara lebih efisien merupakan salah satu area di mana perusahaan manufaktur dapat mengambil tindakan yang konkret dan terukur.
PLTS atap dapat membantu fasilitas manufaktur untuk menghasilkan energi terbarukan di lokasi, mengurangi sebagian penggunaan listrik jaringan, serta memberikan data produksi energi dan dampak lingkungan yang dapat dipantau dari waktu ke waktu.
Solar Radiance mendukung perusahaan komersial dan industri melalui proses yang mencakup technical analysis and design, pembiayaan, engineering, procurement, and construction, hingga operation and maintenance. Melalui skema leasing, perusahaan juga dapat mengembangkan PLTS tanpa perlu menyediakan investasi awal yang besar untuk pembangunan sistem maupun pengelolaannya.
Setiap fasilitas memiliki profil energi, kondisi teknis, dan target ESG yang berbeda. Karena itu, langkah pertama adalah memahami kondisi aktual fasilitas sebelum menentukan solusi yang tepat.
Klik di sini untuk menghubungi tim Solar Radiance atau melalui marketing@solar-radiance.co.id dan diskusikan kebutuhan energi dan potensi PLTS di fasilitas manufaktur Anda bersama tim Solar Radiance untuk mengubah target keberlanjutan menjadi langkah yang dapat diterapkan dan diukur.
Ikuti juga media sosial Solar Radiance untuk mendapatkan informasi terbaru seputar energi surya dan perkembangan industri:
Instagram: @solarradiance_id
LinkedIn: Solar Radiance

ESG dalam industri manufaktur mencakup bagaimana perusahaan mengelola dampak lingkungan, kondisi dan keselamatan pekerja, serta tata kelola dalam kegiatan operasionalnya. Implementasinya dapat berupa efisiensi energi, pengurangan emisi, keselamatan kerja, kepatuhan, audit, dan pelaporan. Untuk aspek energi terbarukan, Solar Radiance dapat membantu perusahaan mengevaluasi potensi PLTS berdasarkan kondisi aktual fasilitas dan kebutuhannya secara spesifik.
Tidak. PLTS terutama merupakan salah satu tindakan dalam pilar Environmental. Aspek Social dan Governance tetap mencakup area yang lebih luas. Dalam proyek PLTS sendiri, Solar Radiance tetap memperhatikan aspek keselamatan, kepatuhan, proses implementasi, serta pemantauan sistem agar proyek dapat terintegrasi dengan kebutuhan operasional perusahaan.
Solar PV memungkinkan perusahaan menghasilkan sebagian listrik dari energi terbarukan langsung di fasilitas dan mengurangi sebagian penggunaan listrik jaringan saat produksi solar berlangsung. Produksi energi juga dapat dipantau sehingga dampaknya lebih mudah diukur. Solar Radiance membantu merancang sistem berdasarkan profil konsumsi dan kondisi teknis masing-masing fasilitas.
Instalasi dan pemeliharaan PLTS berlangsung di lingkungan yang dapat tetap memiliki aktivitas produksi, pekerja, dan sistem kelistrikan aktif. Karena itu, standar keselamatan dan koordinasi dengan fasilitas menjadi bagian penting dari pelaksanaan proyek. Pengalaman Solar Radiance pada proyek solar energy untuk PT MCLS Asia Pacific dan PT Shoetown Ligung Indonesia menunjukkan bagaimana standar keselamatan fasilitas diterapkan selama implementasi proyek.
Perusahaan perlu memahami profil konsumsi listrik, kondisi dan area atap, struktur bangunan, konfigurasi kelistrikan, serta kebutuhan operasional fasilitas. Solar Radiance dapat melakukan technical analysis and design untuk menilai aspek-aspek tersebut sebelum kapasitas dan konfigurasi sistem ditentukan.