"Sebagai rumah sakit yang beroperasi 24 jam, baik di rawat jalan maupun rawat inap, penggunaan energi listrik sangat besar.”
Pernyataan dr. Pujianto, M.Kes., Direktur Utama RS Mardi Rahayu, menggambarkan salah satu tantangan utama pengelolaan energi di fasilitas kesehatan. Kebutuhan listrik terus berlangsung sepanjang hari untuk mendukung pelayanan pasien, aktivitas tenaga medis, serta berbagai fasilitas penunjang rumah sakit.
Di sisi lain, kebutuhan energi yang terus meningkat mendorong rumah sakit untuk mencari solusi yang dapat meningkatkan efisiensi operasional dalam jangka panjang.
Bagi RS Mardi Rahayu di Kudus, Jawa Tengah, salah satu langkah yang diambil adalah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 416 kWp bersama Solar Radiance.
Implementasi ini memiliki pertimbangan khusus. Pemasangan sistem PLTS harus dilakukan di tengah aktivitas rumah sakit yang tidak dapat dihentikan, sehingga perencanaan teknis, keselamatan kerja, dan koordinasi pelaksanaan menjadi bagian penting dari keberhasilan proyek ini.
Berbeda dengan fasilitas yang memiliki jam operasional terbatas, rumah sakit membutuhkan pasokan listrik sepanjang hari. Berbagai peralatan medis, sistem pendingin ruangan, pencahayaan, hingga fasilitas pendukung harus tetap tersedia sesuai kebutuhan pelayanan.
Hal ini membuat pengelolaan energi memiliki dua pertimbangan penting, yaitu efisiensi penggunaan listrik dan keberlangsungan operasional.

Menurut dr. Pujianto, RS Mardi Rahayu menyadari bahwa kebutuhan energinya akan terus meningkat. Karena itu, efisiensi energi menjadi bagian dari strategi sustainability rumah sakit, dengan PLTS sebagai solusi yang dipilih.
Perencanaan kapasitas PLTS perlu memperhatikan profil konsumsi listrik atau load profile, khususnya besarnya kebutuhan energi pada jam-jam ketika PLTS dapat berproduksi. Dengan demikian, kapasitas yang terpasang dapat direncanakan berdasarkan potensi pemanfaatan listrik yang dihasilkan di lokasi.
Dari sisi teknis, operasional rumah sakit selama 24 jam juga mempengaruhi bagaimana PLTS perlu direncanakan.
Pada sistem PLTS atap yang terhubung dengan jaringan listrik atau on-grid, energi matahari dimanfaatkan ketika sistem menghasilkan listrik pada siang hari. Saat produksi PLTS lebih rendah daripada kebutuhan fasilitas, pasokan listrik dari jaringan tetap diperlukan.
Artinya, kebutuhan listrik selama 24 jam tidak berarti seluruh konsumsi dapat dipenuhi oleh PLTS. Dengan perencanaan yang tepat, rumah sakit dapat memanfaatkan energi surya pada siang hari dengan maksimal sambil tetap mengandalkan pasokan listrik dari jaringan PLN untuk memenuhi kebutuhan operasional lainnya.
Bagi RS Mardi Rahayu, efisiensi energi juga berkaitan erat dengan keberlangsungan pelayanan kesehatan.
Seperti yang dijelaskan dr. Pujianto, “Efisiensi energi sangat berkaitan dengan operasional rumah sakit.”
Menurutnya, pemanfaatan energi yang lebih efisien dapat membantu mendukung keberlanjutan operasional rumah sakit dalam jangka panjang.
Pembangunan PLTS pada fasilitas yang sudah dan tetap beroperasi memerlukan penyesuaian ekstra terhadap kondisi bangunan dan sistem kelistrikan yang tersedia.
Pada rumah sakit, terdapat kompleksitas tambahan karena aktivitas konstruksi harus dilakukan bersamaan dengan pelayanan kesehatan yang terus berjalan.

Berikut adalah beberapa aspek teknis yang menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan PLTS di lingkungan rumah sakit:
| Aspek Perencanaan | Pertimbangan Teknis |
| Profil konsumsi listrik | Menganalisis kebutuhan energi pada siang hari untuk menentukan kapasitas PLTS yang sesuai. |
| Integrasi kelistrikan | Mengevaluasi kesesuaian sistem PLTS dengan infrastruktur kelistrikan yang tersedia, termasuk sistem proteksi dan kebutuhan kontinuitas pasokan. |
| Struktur dan area instalasi | Mengkaji daya dukung atap, area efektif pemasangan modul, serta akses inspeksi dan pemeliharaan. |
| Koordinasi konstruksi | Mengatur akses kerja, jadwal pemasangan, dan pengendalian risiko agar aktivitas konstruksi tidak mengganggu pelayanan rumah sakit. |
Pertimbangan tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana proyek dapat dikembangkan secara aman dan sesuai dengan kebutuhan fasilitas.
Sebagai pengembang PLTS, Solar Radiance memiliki layanan yang mencakup technical analysis and design, pengadaan, konstruksi, hingga pengoperasian dan pemeliharaan sistem. Pendekatan ini memungkinkan aspek teknis dan kebutuhan operasional klien dipertimbangkan sejak tahap perencanaan.
Baca juga: Solar Energy dan Peluang Bisnis di Era Transisi Energi di Indonesia
Selain kesiapan desain, keselamatan kerja merupakan prioritas dalam pelaksanaan proyek RS Mardi Rahayu.
Proyek ini mencatat 9.405 jam kerja dengan 100% zero accident atau tanpa kecelakaan kerja yang tercatat sepanjang pelaksanaan proyek.
Pencapaian tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam implementasi PLTS pada fasilitas kesehatan, terutama karena pekerjaan dilakukan di lingkungan yang tetap menjalankan kegiatan pelayanan.

Pada tahap pertama, Solar Radiance mengembangkan sistem PLTS atap berkapasitas 416 kWp di RS Mardi Rahayu, Kudus, Jawa Tengah. Berdasarkan estimasi, PLTS ini dirancang untuk menghasilkan energi terbarukan dan membantu mengurangi emisi karbon dalam jangka panjang:
| Indikator | Estimasi |
| Kapasitas terpasang | 416 kWp |
| Produksi energi per tahun | 584,40 MWh |
| Produksi energi selama periode kontrak | 13.539 MWh |
| Pengurangan emisi CO₂ per tahun | 521 ton |
| Pengurangan emisi CO₂ selama periode kontrak | 12.077 ton |
Kapasitas di atas menunjukkan skala sistem yang dikembangkan, sementara estimasi produksi energi menggambarkan jumlah listrik yang berpotensi dihasilkan dari sistem tersebut.
Perbedaan ini penting karena kapasitas terpasang dalam kWp tidak secara langsung menunjukkan berapa banyak energi yang dihasilkan sepanjang tahun. Produksi aktual akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti intensitas radiasi matahari, kondisi cuaca, efisiensi komponen, dan performa operasional sistem.
Karena itu, pengembangan PLTS juga perlu mempertimbangkan bagaimana produksi energi dapat dipantau serta bagaimana performa sistem dipertahankan selama masa operasional. Bagi RS Mardi Rahayu, proyek tahap pertama ini menjadi bagian dari strategi pemanfaatan energi yang dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan fasilitas di masa mendatang.
Untuk rumah sakit, manfaat ekonomi dari efisiensi energi berkaitan dengan pengelolaan sumber daya untuk mendukung mutu pelayanan. dr. Pujianto menyampaikan harapannya agar PLTS dapat memberikan efisiensi energi dan manfaat ekonomi dalam jangka panjang, sekaligus mengurangi dampak operasional terhadap lingkungan.
Namun, PLTS bukanlah inisiatif lingkungan pertama yang dijalankan RS Mardi Rahayu.

Sebelumnya, mereka telah mengimplementasikan sejumlah langkah keberlanjutan, antara lain penggunaan lampu LED, sistem daur ulang air untuk kebutuhan flushing, dan penyediaan stasiun pengisian kendaraan listrik.
Pengembangan PLTS kemudian melengkapi upaya tersebut melalui pemanfaatan energi terbarukan secara langsung di fasilitas rumah sakit.
Proyek PLTS RS Mardi Rahayu juga memiliki proyeksi manfaat lingkungan yang dinyatakan melalui sejumlah indikator kesetaraan.
| Dampak lingkungan selama 25 tahun, setara dengan: | |
| Penanaman pohon | ±309.661 pohon |
| Daur ulang material | ±13.686 ton material |
| Perjalanan mobil yang dapat dihindari | ±54 juta km |
Bagi RS Mardi Rahayu, estimasi produksi energi dan pengurangan emisi ini menjadi dasar untuk mengevaluasi kontribusi PLTS terhadap inisiatif keberlanjutan rumah sakit dalam jangka panjang.
Selain kebutuhan listrik yang terus meningkat, RS Mardi Rahayu juga mempertimbangkan aspek pembiayaan dalam mengembangkan sistem energi terbarukan.
"Di era JKN ini, Jaminan Kesehatan Nasional, rumah sakit menghadapi tantangan yang tidak mudah dalam hal pendanaan. Sebab itu, kerja sama dengan PT Solar Radiance ini ada dalam scope zero investment.”

Kondisi tersebut membuat struktur investasi menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengembangan PLTS.
Melalui skema leasing berbasis Third-Party Ownership (TPO), Solar Radiance menyediakan pembiayaan untuk pengembangan aset PLTS, termasuk proses perencanaan, konstruksi, hingga pengoperasian dan pemeliharaan sistem.
Baca juga: Peran Solar PV dalam Mengelola Risiko Energi Industri
Dengan model ini, RS Mardi Rahayu dapat mengembangkan PLTS tanpa perlu menyediakan investasi awal untuk pembangunan sistem, sehingga implementasi energi terbarukan tidak harus menambah kebutuhan belanja modal yang besar.
Dr. Pujianto juga menyampaikan bahwa kerja sama tersebut membantu rumah sakit sejak tahap perencanaan hingga sistem berhasil terpasang. Pengalaman ini menunjukkan bahwa bagi fasilitas kesehatan, pemilihan skema pembiayaan PLTS sama pentingnya dengan kesesuaian solusi teknis yang ditawarkan.
Dalam menentukan mitra pengembangan PLTS, RS Mardi Rahayu mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari kompetensi teknis, kualitas teknologi, keamanan, pengalaman, hingga kemampuan penyedia solusi untuk memahami kebutuhan operasional rumah sakit.

Sebuah sistem PLTS juga perlu melewati proses perencanaan, instalasi, pemeriksaan, dan commissioning sebelum memasuki tahap operasional.
Melalui kerja sama ini, Solar Radiance dinilai mampu memberikan solusi menyeluruh dari perencanaan hingga commissioning, dengan komunikasi dan koordinasi yang baik selama pelaksanaan proyek.
"Kami memilih Solar Radiance dengan mempertimbangkan kompetensi, kemampuan, rekam jejak, dan terbukti pada saat kami bekerja sama mulai dari fase perencanaan sampai akhir semuanya dikerjakan dengan baik dan profesional.”
- dr. Pujianto, M.Kes., Direktur Utama RS Mardi Rahayu
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya koordinasi antara pengembang PLTS dan pihak pengelola fasilitas, terutama ketika instalasi dilakukan di lingkungan yang memiliki persyaratan keselamatan dan kontinuitas pelayanan yang tinggi.
Setelah pengembangan tahap pertama berkapasitas 416 kWp, terdapat rencana pembangunan PLTS tahap kedua yang akan memanfaatkan area gedung parkir dan gedung rawat inap Betania.
Kedua bangunan tersebut saat ini masih berada dalam tahap pembangunan.
Pengembangan pada bangunan baru memberikan kesempatan untuk mengevaluasi kebutuhan PLTS sejak proses perencanaan fasilitas, termasuk potensi area pemasangan, kesiapan struktur, serta integrasi dengan sistem kelistrikan yang akan digunakan.
Kapasitas dan konfigurasi tahap kedua tetap perlu ditentukan berdasarkan kebutuhan energi dan kondisi teknis masing-masing bangunan.
Rencana ini memperlihatkan bagaimana penggunaan PLTS dapat berkembang secara bertahap mengikuti pertumbuhan fasilitas dan kebutuhan energi rumah sakit.
Pengalaman RS Mardi Rahayu menunjukkan bahwa pengembangan PLTS di rumah sakit membutuhkan perhatian khusus terhadap perencanaan teknis, keselamatan kerja, dan kebutuhan operasional yang harus tetap berjalan.
Melalui proyek tahap pertama berkapasitas 416 kWp, RS Mardi Rahayu telah mengambil langkah konkret dalam mengembangkan sumber energi terbarukan dengan potensi manfaat ekonomi dan lingkungan dalam jangka panjang.
Seperti yang disampaikan dr. Pujianto:
"Mudah-mudahan, ini adalah langkah awal bagi rumah sakit untuk melakukan inovasi dan upaya-upaya perbaikan berkelanjutan di masa-masa mendatang, sehingga pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Rumah Sakit Mardi Rahayu dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat.”
Solar Radiance mendukung pengembangan PLTS melalui layanan terintegrasi, mulai dari analisis dan desain teknis, pembiayaan, konstruksi, hingga pengoperasian dan pemeliharaan sistem.
Melalui skema leasing yang tersedia, perusahaan dan institusi juga dapat mengembangkan PLTS tanpa perlu menyiapkan investasi awal untuk pembangunan sistem.
Ingin mengetahui potensi pengembangan PLTS sesuai kebutuhan dan karakteristik fasilitas Anda?
Konsultasikan kebutuhan energi bisnis Anda bersama Solar Radiance atau hubungi marketing@solar-radiance.co.id untuk mendiskusikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan operasional Anda.
Ikuti juga media sosial Solar Radiance untuk mendapatkan informasi terbaru seputar energi surya dan perkembangan industri:
Instagram: @solarradiance_id
LinkedIn: Solar Radiance

PLTS atap dapat dimanfaatkan oleh rumah sakit untuk membantu memenuhi sebagian kebutuhan listrik, terutama pada siang hari ketika sistem menghasilkan energi. Pada konfigurasi on-grid, kebutuhan listrik yang belum terpenuhi oleh PLTS tetap dipasok dari jaringan.
Solar Radiance dapat membantu mengevaluasi profil konsumsi listrik, kebutuhan operasional, dan kondisi fasilitas sebelum menentukan kapasitas PLTS yang sesuai.
Pemasangan PLTS memerlukan perencanaan konstruksi, pengendalian risiko keselamatan, serta koordinasi dengan pengelola rumah sakit. Jadwal pekerjaan, akses konstruksi, dan integrasi kelistrikan perlu disesuaikan dengan aktivitas fasilitas.
Pada proyek RS Mardi Rahayu, Solar Radiance menjalankan proses instalasi hingga commissioning dengan tetap memperhatikan keberlangsungan pelayanan. Proyek ini juga mencatat 9.405 jam kerja dengan capaian zero accident.
PLTS atap dengan konfigurasi on-grid standar bukan pengganti langsung sistem listrik cadangan. Sistem seperti ini umumnya memerlukan keberadaan jaringan listrik untuk beroperasi dan memiliki mekanisme proteksi ketika jaringan mengalami gangguan.
Karena itu, kebutuhan pasokan listrik darurat harus dievaluasi secara terpisah. Solar Radiance menyediakan layanan analisis teknis dan desain untuk menyesuaikan pengembangan PLTS dengan infrastruktur kelistrikan yang tersedia dan persyaratan operasional fasilitas.
PLTS atap tahap pertama RS Mardi Rahayu memiliki kapasitas 416 kWp dengan estimasi produksi energi sebesar 584,40 MWh per tahun dan 13.539 MWh selama periode kontrak.
Estimasi ini menjadi acuan awal dalam menilai kontribusi energi sistem. Solar Radiance juga menyediakan layanan pengoperasian dan pemeliharaan untuk mendukung performa PLTS selama masa operasional.
Ya. Pengembangan PLTS dapat direncanakan dalam beberapa tahap mengikuti kebutuhan energi, ketersediaan area, dan kesiapan infrastruktur fasilitas.
RS Mardi Rahayu memiliki rencana pengembangan tahap kedua pada gedung parkir dan gedung rawat inap Betania yang masih dibangun. Solar Radiance dapat mendukung kajian teknis untuk mengevaluasi kapasitas dan konfigurasi PLTS sesuai dengan perkembangan fasilitas tersebut.