Close Search Menu

Menuju Green Hospital: Strategi Energi untuk Fasilitas Kesehatan

Fasilitas kesehatan memiliki kebutuhan listrik yang besar untuk mendukung berbagai aktivitas pelayanan. Mulai dari sistem tata udara (HVAC), pencahayaan, peralatan medis, laboratorium, hingga fasilitas penunjang, semuanya membutuhkan pasokan energi sesuai dengan fungsi dan waktu operasional masing-masing.

Bagi rumah sakit yang beroperasi selama 24 jam, kebutuhan energi menjadi semakin kompleks. Sebagian peralatan harus terus beroperasi, sementara kebutuhan listrik dari fasilitas lainnya dapat berubah sepanjang hari.

Kondisi ini membuat pengelolaan energi menjadi bagian penting dari keberlangsungan operasional fasilitas kesehatan. Efisiensi penggunaan listrik perlu berjalan seiring dengan keandalan sistem, keselamatan, serta upaya mengurangi dampak lingkungan.

Lantas, bagaimana fasilitas kesehatan dapat mengelola kebutuhan energinya secara lebih efisien dan memanfaatkan energi terbarukan tanpa mengganggu pelayanan?

Ringkasan utama

  • Fasilitas kesehatan memiliki kebutuhan listrik yang beragam, sehingga strategi efisiensi energi perlu dimulai dengan memahami profil konsumsi dan karakteristik operasionalnya.
  • Efisiensi energi perlu dilakukan dengan tetap mempertahankan keandalan sistem kelistrikan, keselamatan pasien, dan keberlangsungan pelayanan kesehatan.
  • Konsep green hospital mendorong fasilitas kesehatan untuk mengelola sumber daya secara lebih efisien, mengurangi dampak lingkungan, dan mempertimbangkan pemanfaatan energi terbarukan.
  • PLTS Atap membantu memenuhi sebagian kebutuhan listrik fasilitas kesehatan sekaligus mendukung efisiensi biaya energi dan pengurangan emisi karbon.
  • Implementasi Solar PV memerlukan perencanaan teknis, integrasi kelistrikan, pengendalian keselamatan, serta koordinasi pelaksanaan agar sesuai dengan kebutuhan operasional fasilitas.

Memahami profil kebutuhan energi fasilitas kesehatan

Setiap fasilitas kesehatan memiliki karakteristik konsumsi listrik yang berbeda. Rumah sakit dengan layanan rawat inap, ruang operasi, dan laboratorium tentu memiliki kebutuhan energi yang berbeda dengan klinik atau fasilitas kesehatan yang beroperasi pada jam tertentu.

Karena itu, langkah awal dalam menyusun strategi energi adalah memahami profil konsumsi listrik atau load profile dari fasilitas tersebut.

Analisis ini membantu pengelola fasilitas mengidentifikasi beberapa hal penting:

  • Total konsumsi listrik: Berapa banyak energi yang digunakan dalam periode tertentu, baik harian maupun bulanan.
  • Waktu konsumsi tertinggi: Kapan kebutuhan listrik pada fasilitas mencapai puncaknya dan bagaimana pola penggunaannya sepanjang hari.
  • Beban listrik utama: Sistem dan peralatan apa saja yang menggunakan energi paling besar, seperti HVAC, pencahayaan, dan peralatan medis.
  • Karakteristik operasional: Peralatan mana yang perlu beroperasi terus-menerus dan mana yang memiliki waktu penggunaan lebih fleksibel.

Pemahaman akan profil tersebut dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi peluang penghematan energi, menentukan prioritas peningkatan efisiensi, serta mengidentifikasi potensi pemanfaatan energi terbarukan.

Dengan data konsumsi yang tepat, fasilitas kesehatan dapat merencanakan penggunaan energi secara lebih optimal tanpa mengorbankan kebutuhan pelayanan.

Mengapa efisiensi energi semakin relevan bagi fasilitas kesehatan?

Listrik merupakan salah satu komponen biaya operasional yang perlu dikelola oleh fasilitas kesehatan. Namun, berbeda dengan sejumlah bangunan komersial lainnya, banyak aktivitas pelayanan kesehatan tidak dapat dihentikan atau dikurangi penggunaannya secara bebas.

Sistem pendukung kehidupan, peralatan medis tertentu, penyimpanan obat, hingga pengaturan suhu ruangan harus tetap memenuhi kebutuhan pelayanan dan keselamatan pasien.

Oleh karena itu, efisiensi energi perlu difokuskan pada bagaimana listrik digunakan secara optimal, dengan tetap menjaga kualitas dan keberlangsungan pelayanan.

Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan meliputi:

  • Audit energi
  • Penggunaan pencahayaan hemat energi
  • Optimalisasi sistem tata udara
  • Pemantauan konsumsi listrik berdasarkan karakteristik masing-masing fasilitas

Dalam pembahasan mengenai energi surya untuk fasilitas kesehatan, Institute for Essential Services Reform (IESR) juga menyoroti pentingnya audit energi, penggunaan sistem pencahayaan yang lebih efisien, dan pemisahan jalur kelistrikan berdasarkan kebutuhan operasional rumah sakit.

Langkah-langkah tersebut membantu pengelola fasilitas menentukan area yang memiliki peluang efisiensi, sekaligus mempertahankan pasokan listrik untuk layanan yang membutuhkan keandalan tinggi.

Perkembangan konsep green hospital di Indonesia

Pengelolaan energi semakin mendapat perhatian seiring berkembangnya penerapan konsep green hospital atau rumah sakit ramah lingkungan di Indonesia. Konsep ini mendorong pengelola rumah sakit untuk mempertimbangkan aspek lingkungan dalam perencanaan bangunan, pengelolaan sumber daya, serta aktivitas operasional sehari-hari.

Indonesia sendiri telah memiliki Panduan Rumah Sakit Ramah Lingkungan (Green Hospital) yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Fasilitas Pelayanan Kesehatan pada 2018. Panduan tersebut menjadi salah satu landasan dalam mendorong fasilitas kesehatan yang memperhatikan efisiensi sumber daya, keselamatan, dan dampak lingkungan.

Dalam penerapannya, terdapat beberapa aspek yang saling berkaitan, seperti:

  • Efisiensi energi, melalui pengelolaan penggunaan listrik dan penerapan teknologi yang lebih hemat energi.
  • Pengelolaan sumber daya, termasuk pemanfaatan air dan pengurangan limbah operasional.
  • Keselamatan dan kualitas lingkungan, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pasien, tenaga medis, dan pengguna fasilitas.
  • Pemanfaatan energi terbarukan, sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional.

Pemanfaatan energi surya juga telah menjadi bagian dari diskusi mengenai pengembangan fasilitas kesehatan berkelanjutan di Indonesia.

Pada 2022, IESR bersama Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah dan sejumlah pemangku kepentingan menyelenggarakan forum yang membahas peluang penggunaan PLTS Atap pada fasilitas kesehatan, termasuk pertimbangan teknis, manfaat, dan skema pembiayaannya.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa strategi energi memiliki peran dalam mendukung tujuan sustainability sektor kesehatan, dengan tetap menempatkan kebutuhan pasien dan keberlangsungan layanan sebagai prioritas.

Efisiensi energi melalui pemanfaatan energi terbarukan

Setelah memahami profil konsumsi listrik dan peluang efisiensi, fasilitas kesehatan dapat mulai mempertimbangkan pemanfaatan energi terbarukan.

Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap, yang memungkinkan fasilitas menghasilkan listrik melalui pemanfaatan energi matahari di area bangunan.

Baca juga: PLTS Atap untuk Bisnis: Mengurangi Biaya Energi dan Mendukung Sustainability

Pada sistem PLTS Atap yang terhubung dengan jaringan listrik atau on-grid, energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan langsung untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik fasilitas pada siang hari.

Ketika produksi PLTS lebih rendah daripada kebutuhan listrik, pasokan dari jaringan PLN tetap digunakan untuk memenuhi kekurangannya. Sementara pada malam hari, ketika panel tidak menghasilkan listrik, fasilitas tetap menggunakan sumber pasokan listrik lainnya. Artinya, rumah sakit yang beroperasi selama 24 jam tetap memiliki peluang untuk memanfaatkan energi surya.

Besarnya potensi pemanfaatan energi dari PLTS Atap perlu dievaluasi berdasarkan beberapa faktor, seperti profil konsumsi listrik, kapasitas PLTS, luas area pemasangan, kondisi bangunan, serta infrastruktur kelistrikan yang tersedia.

Kapasitas sistem yang direncanakan sebaiknya mempertimbangkan seberapa besar energi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh fasilitas, khususnya pada jam-jam ketika PLTS menghasilkan listrik.

Dengan pendekatan ini, pengembangan PLTS menjadi bagian dari perencanaan energi fasilitas yang lebih menyeluruh.

Apa yang perlu dipertimbangkan sebelum memasang Solar PV di fasilitas kesehatan?

Pemasangan Solar PV pada fasilitas kesehatan membutuhkan perencanaan yang memperhatikan karakteristik bangunan dan kebutuhan operasionalnya.

Terdapat beberapa aspek penting yang perlu dievaluasi sebelum sistem dikembangkan:

  1. Kondisi bangunan dan area pemasangan

Ketersediaan area atap perlu diperiksa untuk menentukan potensi kapasitas PLTS yang dapat dipasang.

Evaluasi teknis ini juga mencakup kondisi struktur bangunan, kemampuan atap menahan beban tambahan, akses menuju lokasi pemasangan, serta potensi bayangan atau shading dari bangunan dan objek di sekitarnya.

Baca juga: Desain Teknis PLTS: Langkah Awal Untuk Performa Energi Yang Lebih Andal

Kondisi tersebut akan mempengaruhi desain sistem, penempatan panel, serta akses pemeriksaan dan pemeliharaan setelah PLTS beroperasi.

  1. Infrastruktur dan keandalan sistem kelistrikan

Sistem kelistrikan fasilitas kesehatan memiliki kebutuhan keandalan sistem PLTS yang tinggi, khususnya pada area yang menggunakan peralatan medis penting. Oleh sebab itu, perencanaan integrasi PLTS perlu mempertimbangkan infrastruktur kelistrikan yang sudah tersedia, karakteristik beban, sistem proteksi, serta kebutuhan listrik pada area pelayanan yang bersifat kritis.

Penting juga untuk memahami bahwa PLTS Atap on-grid standar bukan pengganti langsung sistem pasokan listrik darurat, seperti generator cadangan dan UPS (Uninterruptible Power Supply). Sistem kelistrikan darurat tetap perlu direncanakan sesuai dengan kebutuhan keselamatan dan keandalan fasilitas kesehatan.

  1. Keberlangsungan aktivitas pelayanan

Berbagai aktivitas pelayanan kesehatan tetap harus berjalan selama proses pembangunan PLTS berlangsung.

Hal ini perlu menjadi pertimbangan sejak tahap perencanaan proyek, terutama ketika pekerjaan dilakukan pada bangunan yang sudah aktif digunakan.

Penjadwalan pekerjaan, pengaturan akses konstruksi, serta koordinasi antara tim proyek dan pengelola fasilitas diperlukan untuk meminimalkan potensi gangguan terhadap aktivitas rumah sakit.

Pelaksanaan pekerjaan kelistrikan juga perlu disesuaikan dengan kondisi operasional serta persyaratan keselamatan fasilitas.

  1. Keselamatan selama pelaksanaan proyek

Keselamatan menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan PLTS, terlebih ketika pekerjaan berlangsung di lingkungan rumah sakit yang memiliki aktivitas pelayanan sepanjang hari.

Pengendalian risiko perlu mencakup keselamatan pekerja, pengamanan area konstruksi, pekerjaan di ketinggian, serta pelaksanaan pekerjaan kelistrikan.

Perencanaan keselamatan yang baik membantu memastikan bahwa proses pembangunan dapat berjalan secara terkendali dengan tetap memperhatikan aktivitas di lingkungan fasilitas kesehatan.

Dari instalasi hingga commissioning: Memastikan sistem siap beroperasi

Setelah proses pemasangan selesai, sistem PLTS perlu melewati tahapan pengujian dan commissioning sebelum mulai dioperasikan.

Tahapan ini bertujuan untuk memastikan bahwa komponen, instalasi, sistem proteksi, dan integrasi kelistrikan telah bekerja sesuai dengan desain serta persyaratan teknis yang ditentukan.

Bagi fasilitas kesehatan, pelaksanaan pengujian juga perlu dikoordinasikan dengan pengelola fasilitas agar aktivitas tersebut tetap memperhatikan kebutuhan operasional dan kontinuitas pelayanan.

Salah satu contoh implementasinya dapat dilihat pada proyek PLTS Atap RS Mardi Rahayu di Kudus, Jawa Tengah, yang dikembangkan bersama Solar Radiance.

Proyek berkapasitas 416 kWp tersebut dilaksanakan pada lingkungan rumah sakit yang tetap beroperasi selama 24 jam. Solar Radiance menjalankan perencanaan teknis, instalasi, hingga commissioning, dengan pelaksanaan yang mempertimbangkan kebutuhan teknis dan operasional rumah sakit.

Proyek ini juga mencatat 9.405 jam kerja dengan zero accident atau tanpa kecelakaan kerja yang tercatat selama pelaksanaan.

Baca juga: Implementasi PLTS Atap 416 kWp RS Mardi Rahayu Tanpa Mengganggu Pelayanan Rumah Sakit

Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya perencanaan, disiplin keselamatan, dan koordinasi dalam mengembangkan sistem energi terbarukan di lingkungan pelayanan kesehatan.

Solar PV sebagai bagian dari strategi energi jangka panjang

Pemanfaatan Solar PV dapat memberikan manfaat bagi fasilitas kesehatan dalam mengelola kebutuhan energinya secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh, antara lain:

  • Mengurangi penggunaan listrik dari jaringan PLN pada saat PLTS menghasilkan listrik dan energinya dapat dimanfaatkan langsung oleh fasilitas.
  • Mendukung efisiensi biaya energi melalui pengurangan sebagian pembelian listrik dari jaringan.
  • Mengurangi emisi karbon yang berkaitan dengan konsumsi listrik konvensional.
  • Mendukung target keberlanjutan, termasuk inisiatif menuju green hospital.
  • Membantu perencanaan energi jangka panjang sesuai perkembangan kebutuhan dan kapasitas fasilitas.

Potensi manfaat tersebut dapat dilihat dari implementasi PLTS Atap RS Mardi Rahayu.

Sistem berkapasitas 416 kWp tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 584,40 MWh listrik per tahun dan menghindari emisi sekitar 521 ton CO₂ per tahun. Selama 25 tahun, pengurangan emisinya diproyeksikan mencapai sekitar 12.077 ton CO₂.

Selain aspek teknis, model pembiayaan juga menjadi pertimbangan dalam mengembangkan energi terbarukan.

Melalui skema leasing berbasis TPO (Third-Party Ownership), Solar Radiance dapat menyediakan solusi PLTS tanpa kebutuhan investasi awal untuk pembangunan sistem. Layanan ini mencakup pembiayaan yang Solar Radiance tanggung untuk perencanaan teknis, konstruksi, hingga pengoperasian dan pemeliharaan sistem.

Dengan demikian, fasilitas kesehatan dapat mempertimbangkan pemanfaatan energi surya sebagai bagian dari perencanaan operasional dan keberlanjutan jangka panjang, tanpa harus mengalokasikan belanja modal awal yang besar untuk pembangunan PLTS.

Rencanakan strategi energi fasilitas kesehatan yang tepat bersama Solar Radiance

Mengelola kebutuhan energi fasilitas kesehatan memerlukan keseimbangan antara efisiensi biaya, keandalan listrik, keselamatan, dan keberlangsungan pelayanan.

Setiap fasilitas memiliki kebutuhan dan kondisi teknis yang berbeda. Karena itu, perencanaan PLTS perlu dimulai dengan memahami profil konsumsi listrik, kesiapan infrastruktur, serta potensi energi surya yang dapat dimanfaatkan.

Dengan pendekatan yang tepat, energi terbarukan dapat menjadi bagian dari upaya fasilitas kesehatan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung target keberlanjutan.

Solar Radiance siap membantu fasilitas kesehatan mengembangkan solusi PLTS yang sesuai dengan kebutuhan operasionalnya, mulai dari analisis teknis, desain, pembiayaan, konstruksi, hingga pengoperasian dan pemeliharaan sistem.

Melalui skema leasing yang tersedia, fasilitas juga dapat memanfaatkan energi surya tanpa perlu menyediakan investasi awal untuk pembangunan sistem.

Ingin mengetahui potensi PLTS Atap untuk fasilitas kesehatan Anda?

Konsultasikan kebutuhan energi bisnis Anda bersama Solar Radiance atau hubungi marketing@solar-radiance.co.id untuk mendiskusikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan operasional Anda.

Ikuti juga media sosial Solar Radiance untuk mendapatkan informasi terbaru seputar energi surya dan perkembangan industri:

Instagram: @solarradiance_id

LinkedIn: Solar Radiance

 

FAQ

1. Apakah PLTS Atap cocok untuk rumah sakit yang beroperasi selama 24 jam?

Ya. Rumah sakit yang beroperasi selama 24 jam dapat memanfaatkan PLTS Atap untuk memenuhi sebagian kebutuhan listriknya, terutama pada siang hari ketika sistem menghasilkan energi.

Pada konfigurasi on-grid, kebutuhan listrik yang belum terpenuhi oleh PLTS tetap dipasok dari jaringan PLN. Solar Radiance dapat membantu menganalisis profil konsumsi listrik dan menentukan kapasitas PLTS yang sesuai dengan kebutuhan operasional rumah sakit.

2. Apakah pemasangan PLTS Atap dapat mengganggu pelayanan rumah sakit?

Pemasangan PLTS pada rumah sakit yang masih beroperasi memerlukan perencanaan konstruksi, pengendalian risiko, dan koordinasi dengan pengelola fasilitas.

Solar Radiance memiliki pengalaman mengembangkan PLTS Atap di RS Mardi Rahayu, dengan pelaksanaan proyek yang tetap memperhatikan keberlangsungan pelayanan rumah sakit selama proses instalasi hingga commissioning.

3. Apakah PLTS Atap dapat menggantikan generator cadangan rumah sakit?

PLTS Atap dengan konfigurasi on-grid standar tidak dapat langsung menggantikan generator cadangan atau UPS. Sistem on-grid umumnya memiliki mekanisme proteksi yang menghentikan operasinya ketika jaringan listrik mengalami pemadaman.

Karena itu, kebutuhan listrik darurat harus dievaluasi secara terpisah. Solar Radiance dapat membantu melakukan analisis teknis untuk memastikan pengembangan PLTS mempertimbangkan sistem kelistrikan dan kebutuhan keandalan fasilitas kesehatan.

 

4. Bagaimana mengetahui apakah atap fasilitas kesehatan cocok untuk pemasangan PLTS?

Kelayakan pemasangan perlu dievaluasi berdasarkan luas area, kondisi struktur atap, orientasi bangunan, potensi bayangan, serta akses instalasi dan pemeliharaan.

Melalui layanan analisis dan desain teknis, Solar Radiance dapat membantu menilai kesiapan lokasi serta menentukan potensi kapasitas PLTS yang dapat dikembangkan sesuai kondisi fasilitas.

5. Apakah fasilitas kesehatan harus menyediakan investasi awal untuk memasang PLTS Atap?

Tidak selalu. Melalui skema leasing TPO (Third-Party Ownership), fasilitas kesehatan dapat memanfaatkan energi surya tanpa perlu menyediakan investasi awal untuk pembangunan sistem.

Solar Radiance menyediakan pembiayaan serta layanan pengembangan dan pengelolaan PLTS, sehingga fasilitas dapat berfokus pada kebutuhan operasional dan pelayanan kesehatan. Penerapannya tetap bergantung pada kelayakan proyek dan kesepakatan kerja sama.

PT Mitra Solar Radians