Close Search Menu

PLTS untuk Cold Storage: Efisiensi Energi Pangan, Hasil Laut, Farmasi dan Logistik

Bagi perusahaan yang mengelola makanan beku, hasil laut, produk pertanian, hingga komoditas farmasi tertentu, menjaga suhu penyimpanan merupakan bagian penting dari kualitas dan keamanan produk. 

Perubahan temperatur yang tidak terkendali dapat mempengaruhi kondisi komoditas, terutama ketika produk harus melewati proses penyimpanan dan distribusi dalam waktu yang panjang. 

Untuk mempertahankan suhu tersebut, fasilitas cold storage mengandalkan sistem refrigerasi yang beroperasi secara konsisten. Kompresor, condenser, evaporator, kipas, serta sistem kontrol menjadi bagian dari kebutuhan listrik. Bebannya dapat berubah mengikuti kondisi lingkungan, jumlah produk, aktivitas keluar-masuk barang, dan kebutuhan pendinginan fasilitas. 

Karena operasional berlangsung hampir 24 jam, listrik menjadi salah satu komponen biaya yang penting bagi bisnis di industri ini. 

Di sinilah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berbasis solar photovoltaic (PV) dapat berperan sebagai sumber energi tambahan yang lebih hemat untuk membantu memenuhi sebagian kebutuhan listrik pada fasilitas.

Kebutuhan pendinginan di siang hari membuka peluang solar self-consumption

Ada hubungan yang menarik antara temperatur lingkungan, kebutuhan pendinginan, dan potensi produksi energi surya.

Ketika temperatur lingkungan meningkat, sistem refrigerasi dapat membutuhkan energi lebih besar untuk mempertahankan suhu penyimpanan yang ditetapkan. Beban pendinginan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi bangunan, aktivitas operasional, dan karakteristik produk yang disimpan. Karena itu, kebutuhan listrik cold storage dapat berubah sepanjang hari. 

Pada saat yang sama, periode dengan intensitas radiasi matahari yang tinggi juga dapat menjadi periode ketika PLTS menghasilkan energi lebih besar. Namun, temperatur udara yang lebih panas tidak otomatis berarti produksi solar akan meningkat. Intensitas radiasi, temperatur modul, dan kondisi sistem sama-sama mempengaruhi performa PV. Temperatur modul yang lebih tinggi bahkan dapat menurunkan efisiensi konversi listrik.

Hubungan inilah yang membuat energi untuk cold storage menarik untuk dikaji. 

Kebutuhan pendinginan yang tinggi pada siang hari dapat bertepatan dengan periode produksi PLTS yang tinggi. Jika profil keduanya sesuai, listrik dari tenaga surya memiliki peluang untuk langsung digunakan secara maksimal oleh fasilitas atau dikenal sebagai solar self-consumption.

Solar PV membantu memenuhi kebutuhan listrik cold storage

Pada sistem on-grid, panel surya menghasilkan listrik pada siang hari, kemudian listrik tersebut digunakan untuk mendukung beban operasional yang sedang berjalan. Ketika produksi solar tidak mencukupi, fasilitas tetap mengambil listrik dari jaringan PLN. 

Pada cold storage, energi tersebut dapat mendukung kebutuhan kompresor, kipas, sistem kontrol suhu, pencahayaan, dan peralatan pendukung lainnya. Dengan demikian, sebagian listrik yang sebelumnya diambil dari jaringan dapat dipenuhi oleh PLTS selama produksi energi surya tersedia.

Peluang self-consumption menjadi relevan karena kebutuhan energi pendinginan yang meningkat pada siang hari bertepatan dengan periode produksi Solar PV yang tinggi. Energi surya yang dihasilkan dapat langsung digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik fasilitas, sehingga mengurangi porsi listrik yang perlu diambil dari jaringan PLN. 

Meski begitu, besarnya energi yang dapat dimanfaatkan bergantung pada profil beban aktual, kapasitas PLTS atap, kondisi atap fasilitas, dan produksi energi di lokasi.

Dari sisi bisnis, penggunaan listrik dari energi surya dapat membantu mengurangi biaya energi serta mendukung target pengurangan emisi perusahaan. Besarnya manfaat perlu dihitung berdasarkan kondisi masing-masing fasilitas, termasuk porsi listrik yang benar-benar dapat digunakan secara langsung.

Lebih dari sekadar kWh: Mengapa kVArh dan power factor perlu diperhatikan?

Dalam pembahasan PLTS, yang sering difokuskan biasanya hanyalah pada kapasitas terpasang dalam kWp dan jumlah energi yang dihasilkan dalam kWh. Keduanya memang penting, tetapi karakteristik kebutuhan listrik cold storage membuat beberapa parameter lain juga perlu masuk ke dalam perencanaan.

Sistem refrigerasi banyak menggunakan motor dan kompresor. Peralatan seperti ini membutuhkan daya aktif untuk menghasilkan kerja mekanis, sekaligus dapat membutuhkan daya reaktif untuk membentuk medan magnet yang diperlukan dalam pengoperasiannya. Hubungan antara kedua jenis daya tersebut tercermin dalam nilai power factor atau faktor daya. 

Agar lebih mudah dipahami, berikut adalah beberapa perbedaan parameter yang relevan:

Apa hubungannya dengan PLTS? 

Ketika sistem on-grid mengurangi daya aktif yang diambil dari jaringan, kebutuhan daya reaktif dari motor dan kompresor belum tentu berkurang dalam proporsi yang sama. Akibatnya, power factor yang terbaca pada sisi jaringan dapat berubah.

Sebagai contoh:

  • Sebuah fasilitas dapat mengambil lebih sedikit kWh dari PLN setelah menggunakan PLTS, sementara kebutuhan energi reaktifnya relatif tetap
  • Dalam kondisi tersebut, perbandingan kVArh terhadap kWh yang diambil dari jaringan dapat meningkat
  • Hal ini tidak berarti PLTS secara otomatis meningkatkan total kebutuhan energi reaktif atau selalu menyebabkan biaya tambahan
  • Kondisi aktualnya bergantung pada karakteristik beban, sistem kompensasi yang tersedia, dan pengaturan kelistrikan fasilitas

Bagi pelanggan industri atau bisnis yang dikenakan ketentuan terkait energi reaktif, perubahan tersebut perlu diperhatikan karena biaya tambahan dapat berlaku apabila kondisi yang ditetapkan PLN terpenuhi. Karena itu, evaluasi PLTS sebaiknya mencakup data power factor, kVArh, dan sistem kompensasi daya reaktif yang sudah ada.

Hal ini merupakan bagian dari perencanaan teknis yang perlu diantisipasi sejak awal. 

Melalui evaluasi profil beban dan sistem kelistrikan, kebutuhan penyesuaian dapat diidentifikasi sebelum kapasitas dan konfigurasi PLTS ditetapkan. Dengan begitu, potensi penghematan energi dapat dihitung bersama dengan kondisi kelistrikan yang relevan bagi operasional perusahaan.

Sektor-sektor yang dapat dibantu oleh Solar PV untuk cold storage

Kebutuhan penyimpanan dingin terdapat di berbagai industri dengan karakteristik produk dan standar temperatur yang berbeda. Peluang penggunaan PLTS dapat dikaji pada fasilitas yang memiliki kebutuhan listrik berkelanjutan serta area pemasangan yang memadai, seperti: 

1. Gudang penyimpanan makanan

Produk segar, daging, makanan beku, dan produk olahan tertentu membutuhkan temperatur penyimpanan yang terjaga. PLTS dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan listrik sistem pendinginan serta fasilitas pendukungnya selama siang hari.

2. Industri perikanan dan hasil laut

Hasil tangkapan dan produk seafood membutuhkan penanganan suhu yang sesuai untuk menjaga kualitas selama penyimpanan dan distribusi. Pada fasilitas pembekuan maupun gudang penyimpanan beku, energi surya dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan biaya listrik.

3. Pertanian dan hortikultura

Penyimpanan dingin membantu menjaga kualitas komoditas pasca panen seperti buah, sayuran, dan produk hortikultura lainnya. Penggunaan PLTS dapat dikaji untuk mendukung kebutuhan energi fasilitas yang beroperasi sepanjang proses penyimpanan.

4. Farmasi dan produk medis tertentu

Beberapa produk farmasi memerlukan kondisi temperatur yang terkontrol sesuai persyaratan penyimpanannya. Pada fasilitas seperti ini, perencanaan PLTS perlu memperhatikan kebutuhan energi sekaligus keandalan sistem kelistrikan yang mendukung kontrol suhu.

5. Logistik dan distribusi cold chain

Gudang distribusi menjadi bagian penting dari cold chain yang menghubungkan produsen, penyimpanan, dan pasar. PLTS dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan listrik fasilitas, terutama ketika aktivitas operasional dan kebutuhan pendinginan berlangsung pada siang hari.

Tantangan implementasi: Mengapa cold storage membutuhkan perencanaan PLTS yang lebih detail?

Karakteristik cold storage membuat perencanaan dan desain teknis PLTS perlu mempertimbangkan lebih banyak variabel dibandingkan fasilitas dengan pola beban yang lebih sederhana. 

Perencanaan PLTS yang baik dimulai dari pemahaman terhadap kebutuhan operasional dan kondisi kelistrikan pada sektor ini:

  • Profil beban yang dapat berubah

Kebutuhan pendinginan dipengaruhi oleh temperatur lingkungan, aktivitas keluar-masuk barang, jumlah produk, serta pengaturan sistem refrigerasi. Data konsumsi listrik bulanan dapat menjadi titik awal, tetapi belum tentu cukup untuk menggambarkan perubahan beban sepanjang hari.

  • Keandalan operasional

Gangguan listrik dapat berdampak pada temperatur penyimpanan dan kualitas produk. Karena itu, integrasi PLTS perlu dirancang agar sesuai dengan sistem kelistrikan dan proteksi yang sudah digunakan fasilitas. 

PLTS on-grid standar juga tidak bisa dianggap sebagai sumber listrik cadangan saat PLN padam. Kebutuhan daya cadangan memerlukan evaluasi sistem tersendiri, seperti konfigurasi hybrid, baterai, atau integrasi dengan genset sesuai kebutuhan fasilitas. 

  • Karakteristik motor dan kompresor 

Selain kebutuhan daya aktif, perencanaan perlu memperhatikan daya reaktif, power factor, serta karakteristik pengoperasian peralatan. Hal ini membantu memastikan integrasi PLTS sesuai dengan kondisi kelistrikan yang ada. 

  • Kondisi bangunan dan lingkungan

Struktur atap pada fasilitas bisnis, luas area yang tersedia, temperatur, kelembapan, potensi korosi, serta kondisi lingkungan industri perlu diperiksa sebelum instalasi. Pada fasilitas pengolahan hasil laut, misalnya, kondisi lingkungan yang berpotensi korosif menjadi salah satu aspek yang relevan untuk dievaluasi. 

Baca juga:Quality dan Productivity Asset: Kunci Menjaga Kinerja PLTS Jangka Panjang

  • Desain berdasarkan data aktual

Penentuan kapasitas PLTS perlu mempertimbangkan profil konsumsi harian, pola operasional, kondisi atap, serta kebutuhan kelistrikan fasilitas. Simulasi produksi energi dan evaluasi teknis kemudian menjadi dasar untuk menentukan konfigurasi yang sesuai.

Baca juga: Desain Teknis PLTS: Langkah Awal Untuk Performa Energi Yang Lebih Andal

Dengan assessment yang tepat, PLTS dapat dirancang untuk mendukung kebutuhan energi cold storage sambil tetap memperhatikan keandalan operasional dan karakteristik sistem kelistrikannya dengan maksimal.

Rencanakan strategi energi cold storage secara efisien bersama Solar Radiance

Cold storage memiliki kebutuhan listrik yang tinggi dan berlangsung secara konsisten karena sistem pendinginan harus menjaga temperatur produk. 

Pada periode dengan radiasi matahari yang tinggi, terdapat peluang untuk memanfaatkan produksi PLTS secara langsung ketika kebutuhan energi fasilitas juga sedang meningkat. 

Namun, potensi tersebut perlu dinilai berdasarkan kondisi aktual. Kapasitas kWp dan estimasi produksi kWh perlu dipertimbangkan bersama profil beban, karakteristik motor dan kompresor, power factor, kVArh, kondisi atap, serta kebutuhan keandalan fasilitas.

Solar Radiance dapat membantu perusahaan mengevaluasi kebutuhan energi dan potensi PLTS berdasarkan karakteristik operasional bisnis Anda. Melalui proses analisis teknis dan perancangan sistem yang tepat, solusi yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan listrik fasilitas, termasuk aspek integrasi dan listrik yang sesuai.

Melalui skema Third-Party Ownership (TPO), Solar Radiance juga menyediakan solusi untuk mengadopsi listrik dengan tenaga surya tanpa investasi awal untuk sistem PLTS. Solar Radiance mengembangkan, membangun, mengoperasikan, dan memelihara sistem, sementara pelanggan memperoleh manfaat listrik surya melalui skema leasing yang disepakati. Model ini memungkinkan perusahaan mengalokasikan modal untuk kebutuhan bisnis lainnya sambil mulai memanfaatkan energi surya dengan mudah.

Baca juga: PLTS Atap untuk Bisnis: Mengurangi Biaya Energi dan Mendukung Sustainability 

Ingin mengetahui potensi PLTS untuk fasilitas cold storage Anda? 

Klik di sini untuk menghubungi tim Solar Radiance atau melalui marketing@solar-radiance.co.id untuk mendiskusikan profil kebutuhan energi, kondisi fasilitas, dan pilihan solusi yang sesuai dengan operasional perusahaan Anda.

Ikuti juga media sosial Solar Radiance untuk mendapatkan informasi terbaru seputar energi surya dan perkembangan industri:

Instagram:  @solarradiance_id

LinkedIn:  Solar Radiance

 

FAQ seputar PLTS untuk cold storage

1. Apakah PLTS dapat memenuhi seluruh kebutuhan listrik cold storage?

PLTS dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan listrik selama energi surya tersedia. Pada sistem on-grid, kebutuhan yang belum terpenuhi tetap disuplai oleh jaringan PLN. Besarnya porsi energi surya bergantung pada kapasitas sistem, profil beban, dan kondisi lokasi. Solar Radiance dapat membantu mengevaluasi potensi solar self-consumption agar kapasitas PLTS yang dirancang sesuai dengan kebutuhan fasilitas.

2. Apakah penggunaan PLTS dapat mengurangi biaya listrik cold storage?

Ya, terdapat peluang pengurangan biaya karena sebagian listrik yang digunakan fasilitas dapat dipenuhi dari energi surya. Besarnya manfaat bergantung pada produksi PLTS, porsi energi yang digunakan langsung, tarif, dan struktur komersial yang disepakati. Solar Radiance dapat membantu menghitung potensi tersebut berdasarkan data energi aktual perusahaan serta menawarkan skema leasing tanpa investasi awal untuk sistem PLTS.

3. Apakah PLTS dapat mempengaruhi power factor dan biaya kVArh?

Integrasi PLTS on-grid dapat mengubah profil power factor yang terbaca dari jaringan karena kebutuhan daya aktif dan reaktif tidak selalu berubah dalam proporsi yang sama. Namun, hal ini tidak berarti PLTS otomatis menyebabkan biaya tambahan. Solar Radiance dapat membantu mengevaluasi profil beban, power factor, kVArh, dan sistem kompensasi yang tersedia agar aspek tersebut dipertimbangkan dalam perancangan.

 

4. Apakah PLTS dapat menjadi sumber listrik cadangan ketika PLN padam?

PLTS on-grid standar tidak dirancang sebagai sumber listrik cadangan ketika jaringan PLN padam. Jika fasilitas membutuhkan pasokan cadangan untuk menjaga operasional pendinginan, diperlukan evaluasi konfigurasi dan sistem pendukung yang sesuai. Solar Radiance dapat membantu mendiskusikan kebutuhan keandalan fasilitas serta solusi energi yang relevan dengan kondisi operasionalnya.

5. Data apa yang perlu disiapkan sebelum perusahaan mengevaluasi PLTS untuk cold storage?

Data yang relevan meliputi konsumsi listrik, profil beban harian, kapasitas dan pola operasi sistem refrigerasi, informasi power factor dan kVArh, serta kondisi dan luas atap. Informasi mengenai kebutuhan daya cadangan dan rencana pengembangan fasilitas juga dapat membantu. Tim Solar Radiance dapat menggunakan data tersebut sebagai dasar assessment untuk menentukan potensi kapasitas, produksi energi, dan konfigurasi PLTS yang sesuai.

PT Mitra Solar Radians