Bagi PT Mitsubishi Corporation Life Sciences Asia Pacific atau PT MCLS Asia Pacific, upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis fosil sudah menjadi bagian dari arah perusahaan sejak sekitar 10–15 tahun lalu. Setiap tahun, perusahaan juga terus mengevaluasi perkembangan performa ESG (Environmental, Social, and Governance) sebagai bagian dari komitmen keberlanjutannya.
Kebutuhan tersebut semakin relevan karena PT MCLS memproduksi sorbitol dan berbagai jenis polyol yang digunakan oleh beragam industri, termasuk perusahaan multinasional. Untuk menjaga hubungan dengan pelanggan, PT MCLS secara rutin menghadapi audit yang mencakup compliance, aspek lingkungan, dan perkembangan performa ESG.
Salah satu langkah yang kemudian dilakukan adalah mengembangkan PLTS atap bersama Solar Radiance di fasilitas PT MCLS di Jawa Timur. Fase pertama proyek mulai beroperasi pada Februari 2026 dengan kapasitas terpasang 1,81 MWp.
Proyek ini menunjukkan bahwa terdapat berbagai pertimbangan mengenai kebutuhan listrik fasilitas, kondisi teknis bangunan, struktur investasi, pembagian risiko, safety, hingga kesiapan sistem sebelum pemasangan modul di area atap dilakukan dan operasional PLTS bisa berjalan dengan optimal.
Fase pertama proyek PLTS MCLS memiliki kapasitas 1,81 MWp dan masih memiliki potensi pengembangan lebih lanjut pada fase berikutnya:

Dari sisi lingkungan, dampak sepanjang periode kontrak tersebut diperkirakan setara dengan:
| Dampak Lingkungan | Estimasi |
| Penanaman Pohon | ± 1.410.241 pohon |
| Daur Ulang | ± 157.848 ton material |
| Perjalanan kendaraan yang dapat dihindari | ± 250 juta km |
Angka produksi energi dan pengurangan emisi tersebut memiliki dampak yang sangat penting karena memberikan hasil yang dapat diukur dari salah satu inisiatif energi yang dijalankan perusahaan. Hal ini juga membantu menghubungkan target ESG di tingkat perusahaan dengan perubahan nyata pada penggunaan energi di fasilitas operasional.
Dalam wawancara bersama Solar Radiance, Intan Listiani Riadi yang merupakan Presiden Director dari PT MCLS Asia Pacific menjelaskan bahwa pemanfaatan energi surya sempat direncanakan untuk berbagai kebutuhan listrik, mulai dari area kantor, server, komputer, hingga beban pendukung seperti R&D dan QC. Tujuannya adalah untuk mulai mengurangi penggunaan energi berbasis fosil sedikit demi sedikit, kemudian terus meningkatkan hasilnya dari tahun ke tahun.
Dari segi teknis, penggunaan secara bertahap seperti ini diperlukan karena kebutuhan PLTS setiap fasilitas tidak dapat ditentukan hanya dari luas atap.
Pada sistem on-grid, energi yang dihasilkan PLTS digunakan oleh fasilitas ketika produksi solar berlangsung. Jika produksinya lebih rendah daripada kebutuhan listrik saat itu, kekurangannya tetap dipenuhi oleh jaringan PLN. Pada malam hari, ketika produksi PV tidak tersedia, fasilitas kembali mengandalkan pasokan dari jaringan. Karena itu, salah satu hal yang perlu dipahami sebelum menentukan kapasitas adalah profil konsumsi listrik atau load profile.
Pengembangan perlu melihat kapan beban listrik muncul dan seberapa besar konsumsi listrik pada periode ketika PLTS dapat menghasilkan energi. Fasilitas dengan kebutuhan listrik tinggi pada siang hari tentu memiliki karakter yang berbeda dengan fasilitas yang sebagian besar bebannya muncul pada malam hari.
Namun load profile bukan satu-satunya parameter. Tahap awal pengembangan juga perlu mempertimbangkan:
Solar Radiance menganalisis aspek-aspek tersebut dalam proses technical analysis and design sebelum proyek masuk ke tahap konstruksi.

Baca juga: Desain Teknis PLTS: Langkah Awal Untuk Performa Energi Yang Lebih Andal
Artinya, kapasitas 1,81 MWp pada fase pertama PT MCLS merupakan hasil dari pertimbangan dan penyesuaian antara kebutuhan energi dan kondisi teknis fasilitas perusahaan.
PT MCLS tidak hanya mempertimbangkan jumlah energi yang dapat dihasilkan dan seberapa besar pengurangan emisi dari PLTS tersebut, mereka juga mempertimbangkan aspek investasinya.
Jika PLTS dibangun dengan investasi langsung (pembelian PLTS secara langsung), perusahaan perlu menyiapkan capital expenditure, melewati proses persetujuan investasi internal, serta menanggung tanggung jawab yang lebih besar terhadap aset dan implementasi proyek. Seberapa lama payback period PLTS, besar investasi, risiko, dan pekerjaan internal yang perlu ditanggung perusahaan tentunya menjadi lebih berat.
Melalui skema operating lease berbasis OPEX (Operating Expenditure) bersama Solar Radiance, struktur tanggung jawabnya menjadi berbeda:

Bagi PT MCLS, skema leasing bersama Solar Radiance membuat proses pengembangan PLTS menjadi lebih sederhana. Perusahaan tetap dapat memanfaatkan energi bersih dan memperoleh efisiensi tarif listrik tanpa harus menangani sendiri seluruh investasi dan pengelolaan aset.
Di sinilah skema OPEX memiliki fungsi yang lebih luas, dengan meringankan risiko teknis, investasi, konstruksi, hingga pengoperasian sistem karena beban dibagi antara perusahaan dan pengembang PLTS.

Manfaat proyek PLTS bagi PT MCLS juga berkaitan dengan kebutuhan perusahaan sebagai pemasok bagi berbagai perusahaan multinasional.
Intan juga menjelaskan bahwa pelanggan PT MCLS secara rutin melakukan audit yang mencakup compliance, performa lingkungan, hingga perkembangan ESG. Artinya, perusahaan perlu dapat menunjukkan bahwa upaya keberlanjutan juga diterapkan dalam kegiatan operasional.
Pengembangan PLTS memberikan salah satu bentuk implementasi yang dapat diukur.
Seperti yang telah dibahas, dengan sistem berkapasitas 1,81 MWp, PT MCLS diperkirakan dapat menghasilkan 2.630 MWh energi terbarukan per tahun sekaligus menghindari sekitar 1.615 ton emisi CO₂ setiap tahunnya.
Bagi pelanggan yang mengevaluasi performa ESG supplier, data seperti produksi energi dan pengurangan emisi dapat memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai langkah yang sudah dilakukan perusahaan.
Menurut Intan, penggunaan energi yang lebih bersih memang tidak secara langsung mengubah harga produk PT MCLS. Namun ketika harga yang ditawarkan beberapa supplier berada pada tingkat yang setara, performa lingkungan dapat menjadi salah satu faktor yang ikut dipertimbangkan pelanggan dalam menentukan pilihan.
Hal ini juga sejalan dengan penerapan ISO 14001:2015 PT MCLS sebagai standar sistem manajemen lingkungan. Dalam konteks proyek PLTS, penerapan energi terbarukan menjadi salah satu langkah operasional yang relevan dengan upaya perusahaan dalam mengelola dampak lingkungannya.
Dengan demikian, PLTS bagi PT MCLS juga membantu perusahaan menunjukkan perkembangan ESG secara lebih terukur kepada pelanggan yang memang menempatkan aspek lingkungan sebagai salah satu bagian dari evaluasi pemilihan supplier.

PT MCLS juga menyoroti pengalaman selama proses pengembangan PLTS bersama Solar Radiance.
Kerja sama dimulai dari penyampaian proposal dan penjelasan mengenai solusi yang ditawarkan, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan kontrak, proses konstruksi, hingga commissioning sebelum PLTS mulai beroperasi.
Menurut Intan, keseluruhan proses tersebut berjalan secara profesional dalam periode yang relatif singkat. Solar Radiance juga dinilai mampu mengikuti aspek safety yang diterapkan di fasilitas PT MCLS selama proses implementasi berlangsung.
Kerja sama dimulai sejak penyampaian proposal dan penjelasan mengenai solusi PLTS yang ditawarkan. Pada tahap ini, PT MCLS dapat memahami pendekatan yang akan digunakan, termasuk bagaimana proyek dapat dikembangkan tanpa membutuhkan investasi awal yang besar dari perusahaan.
Ketika proyek masuk ke tahap konstruksi, aspek safety juga menjadi perhatian penting. Solar Radiance menjalankan pekerjaan dengan mengikuti standar keselamatan yang diterapkan di fasilitas PT MCLS.
Setelah konstruksi selesai, proyek kemudian memasuki tahap commissioning sebelum PLTS mulai beroperasi. Tahap ini memastikan sistem yang telah dibangun siap digunakan dan dapat masuk ke tahap operasional sesuai dengan perencanaan proyek.
Kualitas proses sejak proposal, koordinasi selama konstruksi, penerapan standar safety, hingga kesiapan sistem pada tahap commissioning juga menjadi bagian penting dari keberhasilan implementasi proyek pengembangan PLTS.

PT MCLS menyampaikan pesan yang cukup tegas dari pengalaman proyek ini, yaitu dalam kondisi ekonomi global saat ini, investasi pada energi bersih semakin tidak dapat terus ditunda.
Baca juga: Posisi Indonesia di Tengah Krisis Energi Global: Kerentanan dan Respons Strategis
Perusahaan yang terlalu lama menunda langkah tersebut berisiko tertinggal dibandingkan perusahaan lain yang sudah lebih dahulu mulai beralih menuju penggunaan energi dan operasional yang lebih hijau.
Pada proyek PT MCLS sendiri, penggunaan PLTS sangat bermanfaat untuk:
Bagi PT MCLS, PLTS menjadi salah satu langkah untuk mengelola kebutuhan energi sekaligus mempersiapkan perusahaan terhadap standar lingkungan dan ekspektasi pelanggan yang terus berkembang.
Solar Radiance mendampingi perusahaan melalui proses yang mencakup technical analysis and design, pembiayaan, EPC, serta O&M. Melalui skema leasing, perusahaan dapat mulai memanfaatkan energi terbarukan tanpa perlu menyiapkan investasi awal untuk pembangunan PLTS maupun mengelola sendiri seluruh aspek teknis dan pemeliharaan sistem.
Baca juga: Di Balik Operasional PLTS: Proses Quality Control Solar Radiance
Setiap fasilitas memiliki kebutuhan energi, kondisi teknis, dan pertimbangan investasi yang berbeda. Karena itu, pengembangan PLTS perlu dimulai dari analisis terhadap kondisi aktual perusahaan dan mempertimbangkan kebutuhan khusus setiap perusahaan.
Klik di sini untuk menghubungi tim Solar Radiance atau melalui marketing@solar-radiance.co.id untuk mendiskusikan potensi pengembangan PLTS di fasilitas Anda.
Ikuti juga media sosial Solar Radiance untuk mendapatkan informasi terbaru seputar energi surya dan perkembangan industri:
Instagram: @solarradiance_id
LinkedIn: Solar Radiance

Fase pertama proyek PLTS PT MCLS Asia Pacific memiliki kapasitas 1,81 MWp dan mulai beroperasi pada Februari 2026. Sistem diperkirakan menghasilkan sekitar 2.630 MWh energi per tahun. Solar Radiance mendukung pengembangan proyek dari tahap awal hingga implementasi sehingga kapasitas sistem dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan fasilitas PT MCLS.
Salah satu pertimbangan MCLS adalah mengurangi kebutuhan investasi awal dan kompleksitas proses persetujuan capital expenditure. Dengan model berbasis OPEX, sebagian tanggung jawab investasi dan implementasi PLTS ditanggung oleh Solar Radiance, sementara PT MCLS tetap memperoleh manfaat dari efisiensi biaya listrik dengan eksposur risiko yang lebih rendah dan terkelola.
PT MCLS memasok berbagai perusahaan multinasional yang secara rutin melakukan evaluasi terkait compliance, lingkungan, dan performa ESG. Penggunaan PLTS memberikan langkah operasional yang konkret untuk mendukung perkembangan performa tersebut. Bersama Solar Radiance, PT MCLS memiliki proyek energi dengan kapasitas dan estimasi pengurangan emisi yang terukur.
Berdasarkan pengalaman PT MCLS, proses dimulai dari proposal dan penjelasan solusi, kemudian dilanjutkan ke negosiasi, kontrak, konstruksi, hingga commissioning. PT MCLS menilai proses bersama Solar Radiance berlangsung profesional dan tetap memperhatikan standar safety yang diterapkan perusahaan.
Tidak selalu. Pengalaman PT MCLS Asia Pacific menunjukkan bahwa pengembangan PLTS dapat dilakukan melalui skema yang tidak mengharuskan perusahaan menanggung beban investasi awal yang besar serta kompleksitas proyek secara mandiri. Solar Radiance menyediakan skema leasing yang mencakup analisis teknis, pembangunan aset PLTS, hingga pengoperasian dan pemeliharaan sistem sehingga struktur proyek dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis dan fasilitas masing-masing perusahaan.